Alogaritma Kehidupan

Namanya Johar; Jomblo Gahar. Wajahnya kusam, ada debu disekitar jidat dan leher, kumis tebal setebal kerak bumi, jerawat segede dengkul, dan mata merah akibat keseringan begadang. Johar dikenal sebagai preman di kampungnya dan sangat disegani banyak orang. Selain mukanya yang serem, Johar juga punya kebiasaan utang di banyak warung. Kalo ditagih, Johar selalu ngancem bakal utang makin banyak lagi. Saking seremnya, anak kecil kalo lewat depan rumah Johar besoknya langsung sariawan.

Johar tinggal di rumah yang cukup luas, saking luasnya, kamar mandinya sering disewakan untuk tempat futsal. Walaupun dikenal sebagai preman kampung, Johar adalah sosok pria yang baik. Seringkali Johar membantu maling yang dikejar warga untuk sembunyi di rumahnya. Saking baiknya, Johar hanya minta upah hasil curian dibagi dua, nggak lebih.

Johar punya hewan peliharaan di rumahnya, namanya Ebi. Ebi adalah seekor sapi yang Johar pelihara di dalam kamar. Ebi sapi yang terlatih dan bisa eek tanpa cebok. Ebi ditemukan Johar di kandang milik tetangganya. Karena merasa kasihan dengan Ebi yang sendirian di dalam kandang, akhirnya Johar memutuskan untuk mengadopsinya tanpa ijin dari pemilik.

Suatu hari Johar jatuh sakit di dalam kamarnya. Rasanya seperti ada yang melilit kuat di perutnya. Seketika Johar langsung terbayang-bayang kejadian Atun kejepit Tanjidor. Sakit yang diderita Johar dimulai dari pola hidup yang kurang sehat. Johar tiap bangun tidur nggak pernah minum air putih dulu, tapi langsung ngopi. Malah kadang ampasnya dimakan pake nasi.

Nah, pagi itu Johar mau bikin kopi, tapi listrik mati dan gas kompor abis. Johar paling nggak doyan minum kopi anyep, dia cuma suka minum kopi panas. Karena nggak ada air panas, akhirnya Johar nekat minum kopi campur Salonpas. Alhasil, sakit..

Sorenya Johar pergi ke apotek terdekat. Padahal dari kecil Johar paling nggak doyan minum obat-obatan, apalagi puyer. Johar paling nggak doyan sama segala sesuatu yang berasa pahit. Mulai dari puyer, jamu, sayur pare, ditinggal selingkuh, dikhianati, semua hal-hal pahit selalu Johar jauhi. Tapi kali ini Johar harus siap berhadapan dengan obat karena rasa sakit di perutnya udah mulai mendarah daging. Buat duduk sakit, buat berdiri nyeri, buat kursus balet melilit-lilit.

Dulu Johar punya temen, namanya Hasri. Dia pernah sakit perut parah sampai divonis dokter mau diganti sama perut sapi. Udah ke doker berkali-kali tapi tetep kumat lagi. Ternyata emang kasusnya sama, karena pola hidup yang nggak sehat.

Hasri adalah sosok pria emosian yang kurang bisa berpikir dengan jernih. Suatu ketika Hasri mengalami gatal-gatal disekitar perut, kulitnya bentol-bentol gara-gara digigit nyamuk segede kupu-kupu. Karena nggak kuat nahan gatel akibat gigitan nyamuk, Hasri memutuskan untuk pergi ke apotik dan membeli obat. Sesampainya di rumah, obat itu langsung di minum! Dan seketika rasa gatal berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa. Kini Hasri kapok dan udah nggak mau lagi minum obat nyamuk bakar.

Karena takut salah minum obat seperti yang dialami Hasri, Johar sempet kepikiran mau amputasi perutnya aja biar sembuh. Tapi pikiran itu tiba-tiba sirna setelah Johar melihat mbak-mbak apoteker yang aduhay bohay. Seketika melihat wajahnya yang teduh, cukup bagi Johar untuk merasakan sembuh.

Johar pulang dengan garis bibir melengkung senyum. Langkahnya ringan penuh keriangan. Pertemuan singkat dengan mbak apoteker membuatnya ingin sakit lagi dan jatuh cinta lagi.

Keesokan harinya Johar kembali lagi ke apotek itu sambil berpura-pura sakit. Tapi, Johar nggak ketemu sama mbak aduhay. Yang ada malah mas-mas alay yang rambutnya berponi panjang sekali sampai nutupin puser. Johar murka seketika.. Hari itu adalah hari yang sangat buruk baginya. Tanpa basa basi Johar langsung buang muka dan berpaling dari mas-mas yang terbalut poni.

Johar pulang dengan garis bibir melengkung murung. Langkah kakinya terkatung-katung mengingat hari ini ia kurang beruntung. Rencananya untuk pura-pura sakit demi bertemu pujaan hatinya seakan sirna tertutup poni.

Sesampainya di rumah, Johar tertunduk lesu di kamar pengapnya sembari mengunyah daun jendela untuk meluapkan emosinya. Dadanya sesak seakan tertindih Ivan Gunawan.

-bersambung-